Kamis , 29 Juni 2017
Info Utama
Beranda / Profil Dan Sejarah

Profil Dan Sejarah

AWAL TERBENTUKNYA KODAM XIV/HASANUDDIN

 

Situasi politik dan keamanan dalam negeri beberapa tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 belum menunjukan titik terang. Dibeberapa daerah terjadi pemberontakan dan aksi bersenjata yang berbentuk gerakan separatis. Kekacauan politik yang terjadi di dalam negeri mengakibatkan agresi militer Belanda dan pemberontakan bersenjata di seluruh tanah air mengisi tahun-tahun pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan hingga penyerahan kedaulatan Republik Indonesia tahun 1949.

 

Fenomena itu di respon oleh pemerintah dan TNI dengan melakukan konsolidasi dan reorganisasi terhadap institusi militer. Pada tanggal 20 Juni 1950 dibentuk tujuh Teritorium di seluruh Indonesia. Teritorium VII berkedudukan di Makassar, dibawah Panglima Letkol Achmad Yunus Mokoginta; Instruksi Teritorium itu tertuang dalam Surat Penetapan KSAD Nomor : 83/KSAD/Pnt/1950. Pembentukan Teritorium VII/Indonesia Timur yang membawahi wilayah Sulawesi dan Maluku ini, merupakan cikal bakal lahirnya Kodam XIV/Hasanuddin.

Mendasari penetapan KASAD No. Pnt KASAD-161/KASAD, tanggal 30 Agustus 1950 dan Surat Pnt TT-VII No. 300006/VII/1950 tanggal 17 September 1950 tentang perubahan struktur organisasi dan pembagian wilayah, maka TT-VII/Indonesia Timur di bagi kedalam empat Kompas (KomandoPasukan). Keempat Kompas tersebut antara lain:

 
  1. Kompas “A “ berkedudukan di Bone dengan Komandan Letkol Sukowati, wilayahnya meliputi Sulawesi Selatan dan Tenggara.
  2. Kompas “B” berkedudukan di Manado dengan Komandan Letkol JF Warrouw, wilayahnya meliputi Sulawesi Utara dan Tengah.
  3. Kompas “C” berkedudukan di Denpasar dengan Komandan Letkol A. Kosasih, wilayahnya meliputi Nusa Tenggara.
  4. Kompas “D” berkedudukan di Ambon dengan Komandan Kolonel Inf A. E. Kawilarang, wilayahnya meliputi seluruh daerah Maluku dan Irian Barat.
 

Berdasarkan Surat KeputusanPresiden RI No. 240/M/1957, tanggal 18 April 1957, Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI No. MP/A/77/1957, tanggal 27 April 1957, dan Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI No MP/A/465/57, tanggal 26 Mei 1957 dalam rangka reorganisasi Angkatan Darat, dilakukan likuidasi terhadap TT-VII dan KODPSST. Sebagai kelanjutannya di bentuk 4 Komando Daerah Militer Indonesia Timur yaitu:

 
  1. Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDM-SST) berkedudukan di Makassar yang kemudian di sebut Kodam XIV/ Hasanuddin.
  2. Komando Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah (KDM-SUT) berkedudukan di Manado yang selanjutnya di sebut Kodam XIII/Merdeka.
  3. Komando Daerah militer Maluku dan Irian Barat (KDM-MIB) berkedudukan di Ambon, yang kemudian di sebut Kodam XVI/Pattimura, dan
  4. Komando Daerah Militer XVII/Cendrawasih dan Komando Daerah Militer Nusa Tenggara (KDM-NT) berkedudukan di Denpasar, yang kemudian di sebut Kodam XV/Udayana.
 

Melalui Surat Keputusan KSAD Nomor : 246/5/1957, tanggal 29 Mei 1957 mengangkat Letkol Inf. Andi Mattalatta sebagai pejabat Komandan dan Mayor CPM Haeruddin Tasning sebagai pejabat Kepala Staf KDM-SST. Peresmian terbentuknya Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara dilaksanakan dalam suatu upacara militer pada tanggal 1 Juni 1957 di Lapangan Hasanuddin Makassar. Pelantikan Letkol  Inf. Andi Mattalatta sebagai pejabat Komandan dan Mayor CPM Haeruddin Tasning sebagai Kepala Staf KDM-SST oleh inspektur upacara KSAD Mayor Jenderal A.H. Nasution.

Berdasarkan Radiogram KSAD Nomor 180/1957, tanggal 19 September 1957, sebutan Komandan KDM-SST diubah menjadi Panglima KDM-SST. KDM-SST sebagai komando utama berada dibawah komando langsung KSAD dan dibawah pengomandoan taktis Wakil KSAD (Deputi) yang berkedudukan di Makassar. KDM-SST mengemban tugas pokok untuk pemulihan keamanan dan pembinaan teritorial. Selanjutnya KDM-SST ini disebut juga dengan Kodam Hasanuddin.

Sejak berdirinya tahun 1957 hingga dilikuidasi pada 1 Mei 1985 Kodam XIV/Hasanuddin telah dipimpin oleh beberapa orang Panglima.

 
  1. Letkol Inf Andi Matalatta         (1957-1959)
  2. Brigjen TNI M. Jusuf (1959-1965)
  3. Brigjen TNI Solichin Gautama P. (1965-1968)
  4. Brigjen TNI Sajidiman         (1968-1970)
  5. Brigjen TNI Abdul Aziz Bustam (1970-1973)
  6. Brigjen TNI Hasan Slamet (1973-1975)
  7. Brigjen TNI H. Endang Sukma (1975-1977)
  8. Brigjen TNI Kusnadi         (1977-1979)
  9. Brigjen TNI Soegiarto (1979-1983)
  10. Brigjen TNI Soetedjo (1983-1985)

PEMBENTUKAN KODAM VII/WIRABUANA

Pada awal tahun 1985 diadakan reorganisasi di lingkungan ABRI, termasuk Kompartemen Kewilayahan, dimana Kodam yang semula berjumlah 17 disederhanakan menjadi 10 Kodam. Penyederhanaan ini didasarkan atas kebutuhan dan hakikat ancaman pada saat itu. Keberadaan Komando Kewilayahan Pertahanan (Kowilhan) dan Kodam-Kodam, terutama di luar pulau Jawa dianggap tidak efisien, baik dari segi penggunaan dan pemusatan kekuatan maupun  dari segi anggaran pertahanan. Untuk itu, dianggap mendesak melakukan reorganisasi guna mewujudkan postur pertahanan yang efektif dan efisien.

Khusus untuk wilayah Sulawesi yang merupakan pintu masuk utama kawasan Timur Indonesia, membutuhkan  suatu institusi pertahanan matra darat yang kokoh dan terkendali serta mampu berperan sebagai pengendali stabilitas keamanan di wilayah.

Keberadaan dua Kodam di Sulawesi yaitu Kodam XIII/Merdeka dan Kodam XIV/Hasanuddin yang membagi wilayah Sulawesi ke dalam dua wilayah pertahanan, tidak efektif lagi untuk mewujudkan konsepsi pertahanan. Apalagi jika dihadapkan pada kenyataan bahwa prioritas pertahanan adalah pulau utama. Prioritas pertahanan tersebut perlu menerapkan penghematan tenaga serta pemusatan kekuatan yang memiliki mobilitas tinggi.

Bertitik tolak dari pandangan ini, Kasad Jenderal TNI Rudini pada 12 Februari 1985 mengeluarkan Surat Keputusan Nomor : Skep/131/11/ 1985 tentang likuidasi Kodam XIII/Merdeka  dan Kodam XIV/Hasanuddin menjadi Kodam VII/Wirabuana.

Tindak lanjut dari Surat Keputusan Kasad itu, maka Kodam XIII/Merdeka di Manado resmi dilikuidasi pada tanggal 1 Mei 1985, kemudian menyusul Kodam  XIV/Hasanuddin di Ujung Pandang dilikuidasi pada tanggal 3 Mei 1985. Setelah kedua Kodam tersebut dilikuidasi, maka di wilayah Sulawesi hanya ada 1 Kodam. Panglima pertama Kodam VII/Wirabuana adalah Brigjen TNI Nana Narundana. Adapun nama-nama pejabat Panglima Kodam VII/Wirabuana antara lain:

  1. Mayjen TNI Nana Narundana (1985-1988)
  2. Mayjen TNI Rusmadi Siddik (1988-1991)
  3. Mayjen TNI Zainal B. Palaguna (1991-1993)
  4. Mayjen TNI Sofian Effendi                       (1993)
  5. Mayjen TNI Tamlica Ali         (1993-1995)
  6. Mayjen TNI Sulatin         (1995-1996)
  7. Mayjen TNI Agum Gumelar (1996-1998)
  8. Mayjen TNI Suaidi Marasabessy (1998-1999)
  9. Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah (1999-2000)
  10. Mayjen TNI S. Kirbiantoro (2000)
  11. Mayjen TNI A. Yahya (2000-2002)
  12. Mayjen TNI Amirul Isnaini (2002-2003)
  13. Mayjen TNI Suprapto (2003-2005)
  14. Mayjen TNI Arief Budi S.         (2005-2007)
  15. Mayjen TNI Djoko Susilo U. (2007-2009)
  16. Mayjen TNI Hari Krisnomo (2009-2010)
  17. Mayjen TNI Amril Amir, S.IP. (2010-2011)
  18. Mayjen TNI M. Nizam (2011-2013)
  19. Mayjen TNI Bachtiar, SIP., MAP (2013-2015)
  20.  Mayjen TNI Agus Surya Bakti (2015-2017)

PEMBENTUKAN KEMBALI KODAM XIV/HASANUDDIN

 

Berdasarkan hakekat ancaman yang dihadapi saat ini dan karakteristik wilayah pulau Sulawesi bagian Utara dan bagian Selatan maupun rentang kendali organisasi, efesiensi, dan efektifitas pembinaan satuan serta performance satuan tempur/bantuan tempur, di perlukan penataan gelar kekuatan organisasi. Dengan demikian, untuk menjawab tuntutan tugas yang semakin kompleks dan perkembangan lingkungan strategis baik global, regional, dan nasional serta bagian integral dari sistem perencanaan pembangunan kekuatan TNI AD tersebut, di kembangkan Kodam di Sulawesi Utara atau mengaktifkan kembali Kodam XIII/Merdeka, sehingga secara otomatis Kodam XIV/Hasanuddin kembali aktif.

Pembentukan satuan baru, pembinaan organisasi, dan peningkatan kemampuan satuan diharapkan dapat menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tugas tanggung jawabnya dalam mengatasi berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang timbul dalam suatu wilayah secara cepat, tepat, dan efektif. Oleh karena itu pengembangan kekuatan dengan membagi dua Kodam di Pulau Sulawesi yakni bagian Utara meliputi Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah (Kodam XIII/Merdeka) dan bagian Selatan meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara (Kodam XIV/Hasanuddin) merupakan tuntutan perkembangan lingkungan strategis dan marwah satuan.

 

Menindaklanjuti pemisahan Kodam XIII/Merdeka dengan Kodam VII/Wirabuana, maka nama dan lambang Kodam VII/Wirabuana berubah menjadi Kodam XIV/Hasanuddin. Begitu pula dengan pataka, hymne maupun mars Wirabuana berubah ke Hasanuddin guna mengembalikan marwah, kehormatan atau kebanggaan satuan.

 

Satuan jajaran Kodam XIV/Hasanuddin

 
  1. Kodam XIV/Hasanuddin
  2. Balakdam

- Ajendam                                - Kumdam

- Babinminvetcaddam              - Pendam

- Bekangdam                            - Pomdam

- Bintaldam                              - Topdam

- Hubdam                                 - Zidam

- Infolahtadam                         - Denmadam

- Jasdam                                  - Setumdam

- Kesdam                                  - Sandidam

- Kudam                                   - Puskodalopsdam

  3. Rindam

- Secaba                            - Dodikbelneg

- Secata A                         - Dodikjur

- Dodiklatpur

4. Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia

5. Kodim 1408/BS

6. Deninteldam

7. Denpom VII-6/Makassar

8.  Yonif Raider 700/Wira Yudha Cakti

9. Yonarmed6-76/Tarik

10. Yonkav 10/Serbu

11. Yonzipur 8/Sakti Mandraguna

12. Yonarhanudse 16/Maleo

13. Korem 141/Toddopuli

1. Kodim 1406/Wajo

2. Kodim 1407/Bone

3. Kodim 1409/Gowa

4. Kodim 1410/Bantaeng

5. Kodim 1411/Bulukumba

6. Kodim 1415/Selayar

7. Kodim 1422/Maros

8. Kodim 1423/Soppeng

9. Kodim 1424/Sinjai

10. Kodim 1425/Jeneponto

11. Kodim 1426/Takalar

12. Yonif 726/Tamalatea

 

14. Korem 142/Taroada Tarogau

1. Kodim 1401/Majene

2. Kodim 1402/Polmas

3. Kodim 1403/Luwu

4. Kodim 1404/Pinrang

5. Kodim 1405/Pare-pare

6. Kodim 1414/Tator

7. Kodim 1418/Mamuju

8. Kodim 1419/Enrekang

9. Kodim 1420/Sidrap

10. Kodim 1421/Pangkep

11. Yonif 721/Makkasau

15. Korem 143/Halu Oleo

1. Kodim 1412/Kolaka

2. Kodim 1413/Buton

3. Kodim 1416/Muna

4. Kodim 1417/Kendari

5. Yonif 725/Woroagi

.